Instrumen Identifikasi Drug-Related Problems (DRP) dalam Pharmaceutical Care

Instrumen Identifikasi Drug-Related Problems (DRP) dalam Pharmaceutical Care

Kategori: Farmasi Klinis & Komunitas Dipublikasikan pada 06 October 2025 Oleh: Dr.apt. Syuhada, M.Farm.

Pelayanan farmasi modern berorientasi pada pharmaceutical care, yaitu proses di mana apoteker bertanggung jawab untuk memastikan terapi obat yang aman, efektif, dan rasional bagi pasien. Salah satu komponen utama dalam pharmaceutical care adalah identifikasi dan penyelesaian Drug-Related Problems (DRP) — masalah yang timbul atau berpotensi timbul akibat terapi obat.

Untuk memfasilitasi hal ini, berbagai instrumen dan sistem klasifikasi DRP telah dikembangkan secara internasional. Salah satu yang paling banyak digunakan adalah pedoman dari Pharmaceutical Care Network Europe (PCNE), namun terdapat pula sistem lain yang melengkapi atau digunakan pada konteks yang berbeda.


1. PCNE Classification for DRP

Pedoman PCNE (versi terbaru V9.1, 2020) merupakan sistem klasifikasi yang komprehensif dan banyak digunakan di berbagai negara Eropa maupun Asia. Sistem ini tidak hanya mengidentifikasi masalah obat, tetapi juga memetakan seluruh proses intervensi farmasi melalui lima komponen utama:

  • P (Problem): jenis masalah terkait obat yang terjadi, seperti efektivitas atau keamanan.

  • C (Cause): penyebab DRP, misalnya dosis tidak sesuai atau kesalahan administrasi.

  • I (Intervention): tindakan farmasis untuk mengatasi masalah.

  • A (Acceptance): penerimaan intervensi oleh dokter atau pasien.

  • O (Outcome): hasil akhir setelah intervensi dilakukan.

Pendekatan PCNE dianggap unggul karena terstruktur, mudah dikembangkan, dan dapat digunakan untuk audit klinis maupun penelitian.


2. DOCUMENT System (Belanda)

Sistem DOCUMENT (Drug-Related Problem and Documentation System) dikembangkan di Belanda untuk mendokumentasikan aktivitas farmasis di apotek komunitas.
Kategori utama dalam sistem ini meliputi:

  • Pemilihan obat,

  • Dosis dan durasi,

  • Proses penggunaan obat,

  • Monitoring dan kepatuhan pasien.

Sistem DOCUMENT menekankan pentingnya pencatatan intervensi farmasis secara sistematis agar dapat diukur kontribusinya terhadap peningkatan hasil terapi.


3. Framework APhA (American Pharmacists Association)

Pendekatan dari APhA berfokus pada proses pelayanan farmasi melalui empat langkah utama:

  1. Menilai kebutuhan terapi obat pasien,

  2. Mengidentifikasi masalah terkait obat,

  3. Menyusun rencana perawatan,

  4. Melakukan tindak lanjut dan evaluasi hasil terapi.

Model ini bersifat praktis dan berorientasi klinis, sering digunakan dalam dokumentasi pelayanan pasien menggunakan format SOAP (Subjective, Objective, Assessment, Plan).


4. Model Hepler–Strand

Model Hepler dan Strand (1990) merupakan dasar konseptual pharmaceutical care modern.
Mereka mengidentifikasi delapan kategori DRP, di antaranya:

  • Kebutuhan obat yang tidak terpenuhi,

  • Penggunaan obat yang tidak perlu,

  • Dosis terlalu tinggi atau terlalu rendah,

  • Efek samping obat,

  • Ketidakpatuhan pasien.

Model ini menjadi kerangka awal yang sederhana dan masih banyak digunakan dalam pendidikan farmasi dan praktik dasar klinik.


5. GSASA Classification (Swiss)

Sistem GSASA (Swiss Society of Public Health Administration and Hospital Pharmacists) digunakan untuk mendukung dokumentasi intervensi farmasi di rumah sakit.
Instrumen ini fokus pada:

  • Identifikasi DRP di lingkungan klinis,

  • Penilaian intervensi farmasi,

  • Analisis kualitas pelayanan.


6. Instrumen Tambahan

Beberapa instrumen tambahan juga digunakan untuk konteks pasien tertentu:

  • STOPP/START Criteria – untuk mendeteksi inappropriate prescribing pada pasien lanjut usia.

  • Beers Criteria (AGS) – menilai keamanan obat pada populasi geriatrik.

  • Medication Appropriateness Index (MAI) – mengevaluasi kesesuaian terapi obat individu berdasarkan kriteria klinis.


Kesimpulan

Meskipun PCNE Classification merupakan standar internasional yang komprehensif untuk mengidentifikasi dan mengelola DRP, terdapat berbagai instrumen pelengkap yang dapat digunakan sesuai kebutuhan dan konteks pelayanan.
Pemilihan instrumen yang tepat memungkinkan apoteker untuk:

  • Mengidentifikasi masalah terapi dengan lebih akurat,

  • Mendokumentasikan intervensi secara sistematis,

  • Meningkatkan mutu pelayanan farmasi dan keselamatan pasien.

Dengan demikian, penggunaan instrumen seperti PCNE, DOCUMENT, Hepler–Strand, maupun STOPP/START bukan hanya berfungsi sebagai alat klasifikasi, tetapi juga sebagai fondasi praktik farmasi klinik yang berorientasi pada pasien.

158 views 0 likes
Kembali ke Beranda

Komentar (0)

Silakan login untuk memberikan komentar.

Belum ada komentar.

Kalkulator Klinik

Formula Cockroft-Gault
GFR = ((140-umur) × BB × k) / (72 × SCr)
k = 1.0 (pria), 0.85 (wanita) | Normal: >90 mL/min/1.73m²

Perhitungan GFR (Cockroft-Gault)