Evaluasi Penggunaan Obat ATC/DDD
Nomor SOP: SOP/41/2025
Status: Aktif
Tanggal Terbit: 2025-10-01
Tanggal Review: Belum ditentukan
Dibuat oleh: Dr.apt. Syuhada, M.Farm.
📝 Deskripsi Ringkas
SOP ini bertujuan untuk mengevaluasi penggunaan obat berdasarkan metode ATC/DDD untuk memantau pola penggunaan obat, mengidentifikasi potensi inefisiensi, dan memberikan dasar bagi intervensi yang rasional. Penerapan SOP ini penting untuk meningkatkan kualitas pelayanan farmasi dan efisiensi biaya pengobatan.
📄 Isi Lengkap SOP
Sebelum memulai evaluasi, pastikan semua data penggunaan obat dan data populasi yang relevan telah terkumpul dan terverifikasi keakuratannya.
Selanjutnya, lakukan langkah-langkah berikut:
1. Pengumpulan dan Validasi Data:
a. Kumpulkan data penggunaan obat dari sistem informasi manajemen rumah sakit (SIMRS), catatan resep manual, atau sumber data lain yang relevan. Data yang dikumpulkan minimal mencakup nama obat, dosis, jumlah obat yang digunakan, dan periode penggunaan.
b. Kumpulkan data populasi, seperti jumlah pasien yang dilayani, karakteristik demografi pasien (usia, jenis kelamin), dan informasi lain yang relevan untuk perhitungan DDD/100 pasien/hari.
c. Lakukan validasi data untuk memastikan akurasi dan kelengkapan data. Periksa kesalahan pengetikan, duplikasi data, dan inkonsistensi lainnya.
2. Penetapan ATC (Anatomical Therapeutic Chemical) dan DDD (Defined Daily Dose):
a. Untuk setiap obat yang dievaluasi, tentukan kode ATC yang sesuai berdasarkan klasifikasi ATC WHO. Gunakan sumber resmi seperti situs web WHO Collaborating Centre for Drug Statistics Methodology (https://atcddd.fhi.no/atc_ddd_index).
b. Tentukan DDD untuk setiap obat berdasarkan rekomendasi WHO. DDD adalah dosis pemeliharaan harian rata-rata yang direkomendasikan untuk obat tersebut pada orang dewasa untuk indikasi utamanya. Jika DDD tidak tersedia, gunakan dosis harian rata-rata yang umum digunakan di institusi Anda, dengan justifikasi yang jelas.
3. Perhitungan DDD/100 Pasien/Hari:
Setelah penetapan ATC dan DDD, hitung indikator penggunaan obat DDD/100 pasien/hari. Berikut adalah langkah-langkahnya:
a. Hitung total jumlah DDD yang digunakan untuk setiap obat dalam periode evaluasi. Rumusnya adalah: (Jumlah obat yang digunakan dalam satuan tertentu x Kekuatan obat dalam satuan tersebut) / DDD.
b. Hitung jumlah hari pasien (patient days) dalam periode evaluasi. Ini adalah jumlah total hari rawat inap atau kunjungan pasien ke instalasi farmasi dalam periode tersebut.
c. Hitung DDD/100 pasien/hari untuk setiap obat. Rumusnya adalah: (Total jumlah DDD yang digunakan / Jumlah hari pasien) x 100.
4. Analisis dan Interpretasi Data:
Dengan data DDD/100 pasien/hari yang telah dihitung, lakukan analisis mendalam untuk mengidentifikasi tren dan anomali.
a. Bandingkan data DDD/100 pasien/hari dengan periode sebelumnya untuk mengidentifikasi tren peningkatan atau penurunan penggunaan obat.
b. Bandingkan data DDD/100 pasien/hari dengan standar atau pedoman terapi yang berlaku untuk mengidentifikasi potensi penggunaan obat yang tidak rasional.
c. Analisis variasi penggunaan obat antar unit atau departemen untuk mengidentifikasi potensi perbedaan dalam praktik peresepan.
5. Identifikasi Potensi Masalah dan Rekomendasi Intervensi:
Berdasarkan hasil analisis, identifikasi potensi masalah penggunaan obat dan rumuskan rekomendasi intervensi yang sesuai.
a. Identifikasi obat-obatan dengan penggunaan yang berlebihan atau di bawah standar.
b. Investigasi penyebab masalah penggunaan obat, seperti kurangnya kepatuhan terhadap pedoman terapi, tekanan biaya, atau faktor lainnya.
c. Rumuskan rekomendasi intervensi yang spesifik, terukur, dapat dicapai, relevan, dan terikat waktu (SMART). Contoh intervensi meliputi pendidikan bagi dokter dan perawat, implementasi pedoman terapi, dan audit penggunaan obat.
6. Pelaporan dan Diseminasi Hasil:
Setelah rekomendasi intervensi dirumuskan, laporkan hasil evaluasi dan rekomendasi kepada pihak yang berkepentingan.
a. Siapkan laporan evaluasi yang komprehensif, mencakup metodologi, hasil, analisis, dan rekomendasi.
b. Diseminasikan laporan evaluasi kepada komite farmasi dan terapi, dokter, perawat, dan staf farmasi lainnya.
c. Presentasikan hasil evaluasi dalam pertemuan rutin komite farmasi dan terapi atau forum lainnya untuk membahas rekomendasi intervensi dan rencana tindak lanjut.
7. Monitoring dan Evaluasi Intervensi:
Setelah intervensi diimplementasikan, lakukan monitoring dan evaluasi secara berkala untuk menilai efektivitas intervensi dan membuat penyesuaian jika diperlukan.
a. Kumpulkan data penggunaan obat setelah intervensi diimplementasikan.
b. Hitung kembali DDD/100 pasien/hari dan bandingkan dengan data sebelum intervensi.
c. Evaluasi apakah intervensi telah mencapai tujuan yang ditetapkan. Jika tidak, identifikasi penyebabnya dan modifikasi intervensi sesuai kebutuhan.
Dengan mengikuti langkah-langkah ini, evaluasi penggunaan obat ATC/DDD dapat memberikan informasi yang berharga untuk meningkatkan penggunaan obat yang rasional dan efisien.
Selanjutnya, lakukan langkah-langkah berikut:
1. Pengumpulan dan Validasi Data:
a. Kumpulkan data penggunaan obat dari sistem informasi manajemen rumah sakit (SIMRS), catatan resep manual, atau sumber data lain yang relevan. Data yang dikumpulkan minimal mencakup nama obat, dosis, jumlah obat yang digunakan, dan periode penggunaan.
b. Kumpulkan data populasi, seperti jumlah pasien yang dilayani, karakteristik demografi pasien (usia, jenis kelamin), dan informasi lain yang relevan untuk perhitungan DDD/100 pasien/hari.
c. Lakukan validasi data untuk memastikan akurasi dan kelengkapan data. Periksa kesalahan pengetikan, duplikasi data, dan inkonsistensi lainnya.
2. Penetapan ATC (Anatomical Therapeutic Chemical) dan DDD (Defined Daily Dose):
a. Untuk setiap obat yang dievaluasi, tentukan kode ATC yang sesuai berdasarkan klasifikasi ATC WHO. Gunakan sumber resmi seperti situs web WHO Collaborating Centre for Drug Statistics Methodology (https://atcddd.fhi.no/atc_ddd_index).
b. Tentukan DDD untuk setiap obat berdasarkan rekomendasi WHO. DDD adalah dosis pemeliharaan harian rata-rata yang direkomendasikan untuk obat tersebut pada orang dewasa untuk indikasi utamanya. Jika DDD tidak tersedia, gunakan dosis harian rata-rata yang umum digunakan di institusi Anda, dengan justifikasi yang jelas.
3. Perhitungan DDD/100 Pasien/Hari:
Setelah penetapan ATC dan DDD, hitung indikator penggunaan obat DDD/100 pasien/hari. Berikut adalah langkah-langkahnya:
a. Hitung total jumlah DDD yang digunakan untuk setiap obat dalam periode evaluasi. Rumusnya adalah: (Jumlah obat yang digunakan dalam satuan tertentu x Kekuatan obat dalam satuan tersebut) / DDD.
b. Hitung jumlah hari pasien (patient days) dalam periode evaluasi. Ini adalah jumlah total hari rawat inap atau kunjungan pasien ke instalasi farmasi dalam periode tersebut.
c. Hitung DDD/100 pasien/hari untuk setiap obat. Rumusnya adalah: (Total jumlah DDD yang digunakan / Jumlah hari pasien) x 100.
4. Analisis dan Interpretasi Data:
Dengan data DDD/100 pasien/hari yang telah dihitung, lakukan analisis mendalam untuk mengidentifikasi tren dan anomali.
a. Bandingkan data DDD/100 pasien/hari dengan periode sebelumnya untuk mengidentifikasi tren peningkatan atau penurunan penggunaan obat.
b. Bandingkan data DDD/100 pasien/hari dengan standar atau pedoman terapi yang berlaku untuk mengidentifikasi potensi penggunaan obat yang tidak rasional.
c. Analisis variasi penggunaan obat antar unit atau departemen untuk mengidentifikasi potensi perbedaan dalam praktik peresepan.
5. Identifikasi Potensi Masalah dan Rekomendasi Intervensi:
Berdasarkan hasil analisis, identifikasi potensi masalah penggunaan obat dan rumuskan rekomendasi intervensi yang sesuai.
a. Identifikasi obat-obatan dengan penggunaan yang berlebihan atau di bawah standar.
b. Investigasi penyebab masalah penggunaan obat, seperti kurangnya kepatuhan terhadap pedoman terapi, tekanan biaya, atau faktor lainnya.
c. Rumuskan rekomendasi intervensi yang spesifik, terukur, dapat dicapai, relevan, dan terikat waktu (SMART). Contoh intervensi meliputi pendidikan bagi dokter dan perawat, implementasi pedoman terapi, dan audit penggunaan obat.
6. Pelaporan dan Diseminasi Hasil:
Setelah rekomendasi intervensi dirumuskan, laporkan hasil evaluasi dan rekomendasi kepada pihak yang berkepentingan.
a. Siapkan laporan evaluasi yang komprehensif, mencakup metodologi, hasil, analisis, dan rekomendasi.
b. Diseminasikan laporan evaluasi kepada komite farmasi dan terapi, dokter, perawat, dan staf farmasi lainnya.
c. Presentasikan hasil evaluasi dalam pertemuan rutin komite farmasi dan terapi atau forum lainnya untuk membahas rekomendasi intervensi dan rencana tindak lanjut.
7. Monitoring dan Evaluasi Intervensi:
Setelah intervensi diimplementasikan, lakukan monitoring dan evaluasi secara berkala untuk menilai efektivitas intervensi dan membuat penyesuaian jika diperlukan.
a. Kumpulkan data penggunaan obat setelah intervensi diimplementasikan.
b. Hitung kembali DDD/100 pasien/hari dan bandingkan dengan data sebelum intervensi.
c. Evaluasi apakah intervensi telah mencapai tujuan yang ditetapkan. Jika tidak, identifikasi penyebabnya dan modifikasi intervensi sesuai kebutuhan.
Dengan mengikuti langkah-langkah ini, evaluasi penggunaan obat ATC/DDD dapat memberikan informasi yang berharga untuk meningkatkan penggunaan obat yang rasional dan efisien.